BMH Bojonegoro

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Kajian Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Utama. Tampilkan semua postingan

HIKMAH DIBALIK HIJRAH

Oleh : Abdullah Ridho


Tahun baru kembali menyapa kita. Satu tahun telah berlalu. Satu tahun umur kita bertambah. Satu tahun juga jatah hidup kita berkurang. Waktu laksana air yang mengalir ke hilir yang takkan pernah kembali ke hulu. Kadang ia membangkitkan semangat, kadang membuat orang terlena dan tak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya.
Pergantian tahun seharusnya mengingatkan kita agar selalu menghargai waktu dan mengisinya dengan beragam aktivitas bermanfaat. Setiap kesempatan yang ditawarkan sang waktu, kita gunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup di dunia sebagai bekal kehidupan di akherat. Jika tidak, sang waktu akan menarik kesempatan itu dan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Sebuah peribahasa mengatakan, “ Waktu laksana pedang, jika tidak mampu memanfaatkan waktu, maka ia akan memenggalmu.”
Pengertian Hijrah
Hijrah mengandung beberapa makna. Diantaranya, pertama, hijrah secara maknawi. Yaitu, meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini Allah berfirman, “ Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,” ( QS. Al-Mudatstsir : 5). Dalam sebuah hadits, Nabi menyebutkan, orang yang hijrah itu adalah orang yang meninggalkan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. ( HR. Bukhari). Dalam makna inilah hijrah bisa dilakukan siapa saja.
Kedua, hijrah makani atau berpindah tempat. Makna ini berimplikasi putusnya hubungan secara politis. Hijrah seperti ini dapat dilakukan secara individual maupun massal. Ada beberap hal yang melatari hijrah ini. Diantaranya, pertama karena tidak ada kebebasan dalam melaksanakan ajaran agama. Dalam keadaan seperti ini, seseorang diperbolehkan berhijrah untuk mendapatkan kenyamanan beribadah. Kedua, karena dirinya dibutuhkan tempat yang baru itu. Sedangkan di tempat tinggalnya semula, sudah banyak ulama atau dai. Dalam keadaan seperti ini, hijrah sangat dianjurkan. Bahkan boleh jadi wajib. Ketiga, karena adanya tekanan politis dari penguasa zalim yang dilakukan secara massal. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Musa ketika ia meninggalkan Mesir menuju Madyan. Sebagaian sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun melakukan hijrah karena alasan ini. Namun, tentu saja tak semua dari mereka hijrah karena tekanan politis. Umar bin Khathhthab yang hijrah betul-betul karena perintah. Bahkan, sebelum hijrah ia sempat menantang duel kafir Quraisy untuk melawannya.
Jadi, hakekat hijrah sebenarnya bukan semata untuk berpindah ke tempat yang aman. Hijrah merupakan usaha perubahan kulaitas hidup, baik yang bersifat mental, maupun moral sosial. Perubahan yang dimaksud bukan hanya secara tempat, tapi juga keadaan. Tempat bisa jadi tidak berpindah, tapi kondisi yang diubah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya melakukan hijrah bukan karena takut terhadap kezaliman kafir Quraisy Makkah sehingga dianggap sebagai pengungsian atau pengusiran. Hijrah merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di samping strategi besar yang dilakukan seorang pemimpin untuk membangun kekuatan baru yang tangguh dalam membangun masyarakat yang memiliki kemuliaan dan keluhuran mental, spiritual, kultural, maupun ekonomi. Ia juga merupakan strategi kebangkitan Islam.
Hikmah Peristiwa Hijrah
Dalam menapaktilasi hijrah Rasul terdapat banyak hikmah besar dan pelajaran yang sangat berharga. Kalau kita mau memetik teladan, sesungguhnya kesuksesan Rasul dan generasi Islam awal itu dapat mengilhami kesuksesan kita sekarang ini. Diantara hikmah-hikmah besar itu adalah :
Pertama, perencanaan yang matang. Hijrah adalah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya guna mendaptkan wilayah yang kondusif bagi penegakkan nilai-nilai Islam. Untuk merealisasikan cita-cita mulia itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyusun perencanaan matang tentang strategi perjalanan hijrah agar kendala yang dihadapi sekecil mungkin.
Perencanaan matang itu tampak jelas ketika Ali bin Abi Thalib menjalankan tugas menggantikan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam di tempat tidurnya guna mengecoh kaum kuffar Quraisy yang berniat membunuh Rasul terakhir ini. Bahkan, hali ini juga terlihat pada strategi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam saat berhijrah, beliau tidak berangkat langsung ke Madinah. Tapi, ia bersama Abu Bakar Shiddiq Radhiallahu ‘anhu singgah di gua Tsur selama tiga hari guna menyulitkan musyrik Quraisy yang sibuk mencari mereka.
Kedua, kerjasama yang baik. Salah satu indikator kesuksesan hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah, adanya jalinan kerjasama yang baik antara para sahabatnya. Tak ada rasa iri dan dengki di antara para sahabat. Dengan penuh tanggungjwab mereka menjalankan tugas dakwahnya masing-masing sesuai dengan bidang dan kemampuan. Ali in Abi Thalib misalnya, ditugaskan untuk tidur di tempat beliau, walupun dengan penuh resiko dijalankannya tugas tersebut dengan sangat baik. Demikian pula dengan Umar bin Khaththab yang ditugaskan menggalang opini dengan berkata di hadapan Musyrikin Quraisy, “ Siapa yang ingin anaknya menjadi yatim dan istrinya menjadi janda, cegahlah aku. Karena aku akan segera menyusul Nabi ke Madinah.” Abu Bakar juga menjalankan tugas berat untuk mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam perjalanan hijrah. Demikian pula dengan sahabat-sahabat Nabi yang lain.
Tak ada kesuksesan yang terwujud kalau kondisi umat carut marut dan bercerai berai. Sebaliknya, kebersamaan umat dalam kebajikan laksana sebuah bangunan kokoh yang tidak dapat dihancurkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” ( QS. As-Shaf:4)
Ketiga, pengorbanan besar. Hijrah Nabi dan para sahabatnya membutuhkan pengorbanan sangat besar. Bukan hanya harta, tapi juga jiwa, tenaga, pikiran, w aktu, dan perasaan. Dengan perasaan berat Nabi dan para sahabatnya harus ikhlas meninggalkan kampung halamannya. Ali bin Abi Thalib dan Asma binti Abu Bakar nyaris tewas menanggung derita penyiksaaan yang dilakukan orang-orang kafir terhadap diri mereka karena menjaga rahasia tempat persembunyian Nabi dan Abu Bakar di gua Tsur. Dengan pegorbanan yang besar itulah perjuangan insyaAllah akan mencapai hasil yang maksimal. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin orang-orang yang berkorban dengan penuh keikhlasan untuk terhindar dari azab neraka yang pedih, dan memasukkan mereka kedalam surga. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (QS. As-Shaf : 10-11)
Keempat, kesungguhan dan keikhlasan. Tanpa kesungguhan dan keikhlasan, tak mungkin hijrah itu dapat terlaksana dengan baik. Itu sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “ Sesungguhnya, amal itu harus dengan niat. Perbuatan setiap orang itu tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang berhijrah semata karena taat pada Allah dan Rasul-Nya. Maka hijrah itu diterima Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah karena mengejar keuntungan duniawi atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, niscaya hijrahnya terhenti pada apa yang ia niatkan itu.” ( HR. Bukhari-Muslim)
Kelima, nilai ukhuwah (persaudaraan) sejati. Pelajaran berharga dari hijrah adalah persaudaraan sejati anatara Muhajirin dan Anshar. Hal itu dapat dilihat saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya tiba di Madinah. Mereka disambut dengan suka cita oleh orang-orang Madinah.Bahkan, Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wasallam sendiri sampai bingung bukan karena ketiadaan tempat, tapi bingung karena hampir semua orang Madinah menginginkan agar Rasul Shalallahu ‘alaihi Wasallam menetap di rumah mereka. Akhirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam membiarkan unta yang ditungganginya itu berhenti dan distulah ia akan menetap. Ternya unta Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam berhenti di depan rumah sahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyyallahu anhu.
Keenam, Kebanggaan sebagai Muslim. Peristiwa hijrah Rasul yang oleh sejarah dicatat sebagai pijak keberhasilan generasi Islam pertama dalam membangun pondasi dakwah, menjadi kebanggaan umat Islam hingga saat ini. Kebanggan itu memicu semangat untuk tetap eksis dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai Islam. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Imran:139). Kita berharap semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan iman dan takwa kepada kita. Sehingga mampu memetik berbagai pelajaran berharga dari peristiwa bersejarah ini. Amin. Wallahu’alam


Jika Anda Menyukai Artikel Blog ini, Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah, Maka Anda Akan Mendapatkan Kiriman Email Setiap Kali Ada Posting Baru. Terima Kasih Atas Partisipasinya:


JANGAN LUPA CEK EMAIL ANDA UNTUK VERIFIKASI BERLANGGANAN VIA EMAIL

Buktikan Iman Dengan Amal

Allah menciptakan manusia dengan dua tujuan hidup. Tujuan pertama adalah menjadi abdullah ( hamba Allah ) artinya mengabdi kepada Allah SWT. sebagaimana firman-Nya :
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ( QS. Adz Dzaariyat : 56 )

Mengabdi kepada Allah SWT adalah mengarahkan segala potensi baik jasmani maupun ruhani yang diberikan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Menjaga dengan baik hubungan vertikal kepada Allah SWT. Sehingga memiliki keimanan yang benar kepada Allah SWT.

Tujuan kedua yaitu menjadi khalifah Allah di bumi. Sebagaimana firman-Nya:
Dan ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan di muka bumi seorang khalifah. ( QS. Al Baqarah : 30 )

Menjadi khalifah adalah mengarahkan segala potensi yang diberikan oleh Allah untuk memakmurkan alam ini. Menjaga hubungan horisontal dengan baik kepada seluruh penghuni alam ini. Sehingga keberadaannya mampu mendamaikan dan mensejahterakan alam ini. Mampu menjadi wakil Allah di muka bumi.Mampu berakhlak dengan akhlak-akhlak Allah, berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan memberi keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Allah.”

Definisi Iman

Kata Iman di dalam al-Qur'an disebut lebih dari 840 kali. Iman secara etimologis berasal dari kata aamana - yu'minu berarti tasdiq yaitu membenarkan, mempercayai. Dan menurut istilah Iman ialah “Membenarkan dengan hati diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.”

Imam Ahmad bin Hanbal mendefinisikannya dengan “Qaulun wa amalun wa niyyatun wa tamassukun bis Sunnah”. Yakni Ucapan yang diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada Sunnah .

Sahl bin Abdullah At-Tustari ketika ditanya tentang apakah sebenarnya iman itu beliau menjawab demikian “Qaulun wa amalun wa niyyatun wa sunnatun”. Artinya Ucapan yang disertai dengan perbuatan diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan Sunnah.

Iman Tidak Sekedar di Lisan


Iman tidak sekedar diucapkan. Akan tetapi harus disempurnakan dengan keyakinan dan amal perbuatan. Iman yang sekedar diucapkan tidak akan diterima oleh Allah SWT. Bahkan ada sebagian diantara manusia mengaku-ngaku sebagai orang beriman padahal sesungguhnya mereka bukan golongan orang yang beriman. Firman Allah : Dan diantara manusia ada yang berkata, “ Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman. ( QS. Al-Baqarah : 8 )

Model manusia seperti ini sangat banyak bahkan mayoritas. Mereka dengan gampang dan tidak malu menyatakan sebagai orang beriman akan tetapi enggan dan malas untuk membuktikan keimanannya kepada Allah. Mereka tidak memiliki komitmen yang jelas terhadap Allah. Pekerjaan hariannya adalah berdusta. Karena di dalam hatinya bersarang penyakit yang kronis dan menyebabkan mereka mendapatkan azab Allah SWT. Sebagaimana firman Allah :
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu, dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta. ( QS. Al-Baqarah : 10 )

Iman Harus dengan Amal Saleh

Bukti iman adalah amal saleh. Beramal saleh juga harus di dasarkan pada iman yang benar. Sebab iman itu apabila hanya ucapan tanpa disertai perbuatan adalah kufur . Apabila hanya ucapan dan perbuatan tanpa diiringi ketulusan niat adalah nifaq. Sedang apabila hanya ucapan perbuatan dan ketulusan niat tanpa dilandasi dengan sunnah adalah bid'ah.

Dengan demikian iman itu bukan sekedar pengertian dan keyakinan dalam hati. Bukan sekedar ikrar dengan lisan dan bukan sekedar amal perbuatan saja tapi hati dan jiwa kosong. Imam Hasan Basri mengatakan “ Iman itu bukanlah sekedar angan-angan dan bukan pula sekedar basa-basi dengan ucapan akan tetapi sesuatu keyakinan yg terpatri dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan”.

Tentunya kita tidak sembarangan mengaku sebagai orang yang beriman sementara bukti amal saleh tidak ada. Iman kita harus dibuktikan. Sekecil apapun amal kita harus di landaskan pada iman yang benar. Amal yang didasarkan pada iman akan mendapatkan balasan terbaik di sisi Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yg menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dgn sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min maka mereka itu adalah orang-orang yg usahanya dibalasi dgn baik.” (QS. Al Isra' : 19 )

Orang-orang yang beramal saleh baik laki-laki maupun wanita yang didasarkan pada iman yang benar juga akan dimasukkan surga dan mereka tidak akan teraniaya sedikitpun di hadapan Allah SWT. sebagaimana firman-Nya :“Barangsiapa yg mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” ( QS. An Nisa': 124 )

Allah juga menjanjikan kepada orang-orang yang beramal saleh yang didasarkan pada iman yang benar akan mendapatkan kehidupan yang baik. Firman Allah SWT :“Barangsiapa yg mengerjakan amal shaleh baik laki-laki-laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97 )

Khatimah

Orang beriman adalah orang sangat produktif dalam beramal saleh. Memiliki motivasi yang kuat untuk mewujudkan karya amal saleh.Dalam beramal saleh. Memiliki motivasi yang kuat untuk mewujudkan karya amal saleh. Senantiasa menjadikan segala aktivitas sebagai bukti keimanannya kepada Allah. menjadi guru karena Allah. Menjadi pengasuh karena Allah. Menjadi pebisnis karena Allah. Menjadi amil karena Allah. Menjadi pengurus organisasi karena Allah. Menjadi apapun diri ini hanya karena Allah. Dan tidaklah membiarkan sedikitpun aktivitasnya kecuali hanya diniatkan karena Allah. sehingga terpancar sikap optimisme. Sikap penuh keyakinan kepada Allah. Sikap kepasrahan ( tawakal ) terhadap hasil akhir yang akan dicapai. Inilah wujud dari sebuah peradaban islam. Mengarahkan segala aktivitas hanya karena Allah SWT. Wallahu'alam bishshawab

Oleh : Abdullah Ridho
Ketua PD Hidayatullah Bojonegoro



Jika Anda Menyukai Artikel Blog ini, Masukan Alamat Email Anda Pada Kolom di Bawah, Maka Anda Akan Mendapatkan Kiriman Email Setiap Kali Ada Posting Baru. Terima Kasih Atas Partisipasinya:

JANGAN LUPA CEK EMAIL ANDA UNTUK VERIFIKASI BERLANGGANAN VIA EMAIL

Suara Hidayatullah Pendidikan Islam Jaringan Masyrakat Bertauhid Jaringan Masyrakat Bertauhid